Pada tahun 1986 di
Motorola, Six Sigma diperkenalkan oleh Bill Smith dengan menerapkan statistic
untuk meningkatkan kualitas produksi. Kemudian pada 1990-an Motorola
mendaftarkan Six Sigma sebagai merek dagang.
Pada tahun 1995 CEO
General Electric, Jack Welch membawa Six Sigma ke proses
manufaktur General Electric untuk peningkatan kualitas.
Sejak itu, kemudian
Six Sigma diadopsi dan diimplementasikan di banyak fasilitas manufaktur
di seluruh dunia. Ke Indonesia masuk sekitar tahun 2000.
Lean
Manufacturing.
Lean Manufacturing adalah industri manufaktur yang menerapkan metode lean pada proses produksinya. Setiap aktifitas yang dilakukannya diupayakan memiliki nilai tambah (VA / Value Added).
Aktifitas apapun yang tidak memiliki nilai
tambah (NVA / Non-Value-Added) seperti Inspek, Pengujian Lab, dan Perbaikan supaya diupayakan dicegah.

NVA adalah pemborosan yang tentunya
merupakan beban bagi perusahaan. Pada industri yang tidak menerapkan metode lean
banyak aktifitas NVA yang terjadi, sehingga hal ini tanpa disadari lama
kelamaan akhirnya menjadi hal yang biasa bagi semua pegawai. Ini adalah pabrik didalam pabrik atau Hidden Factory.
NVA dapat dikelompokkan menjadi
Transportation Waste, Inventory Waste, Motion Waste, Waiting, Over Processing,
Over Production, Defect dan People Talent.
Six
Sigma Method
a. Mereduksi variasi (Variances Reducing).
b. Memusatkan (Centering).
Konsumen menginginkan produk yang diterima sama dengan permintaan (baca: sesuai target).
Karena itu produsen harus berupaya memenuhinya (centering).
c. Pencegahan Cacat (defect preventing).
Lean Six Sigma merupakan metode sebagai gabungan dari Lean dan Six Sigma.
Six Sigma Metric

