Banyak alat untuk mengukur kinerja dan pencapaian suatu perusahaan, salah satunya adalah Sigma Capability berupa indeks Nilai Sigma.
Nilai Sigma berlaku universal. Indeks ini berdasarkan pada data. Besar kecilnya indeks bergantung pada factor variance data (spread), keterpusatan data (centering), defect dan out-of-specification, dan spesifikasi.
Bila proses produksi tidak terkendali maka banyak terjadi variasi, ini memperkecil Nilai Sigma.
Bila hasil proses produksi tidak terpusat ke target yang ditetapkan, ini memperkecil Nilai Sigma.
Bila proses dan produk banyak cacat (defct) dan diluar batas spesifikasi (out-of-specification), ini memperkecil Nilai Sigma.
Proses dan produk harus dikendalikan dan dipantau agar spread yang terjadi tidak melebar, proses dan produk agar selalu terpusat kearah target, cegah defect dan out-of-specification, proses dan produk harus selalu berada dalam batas spesifikasi.
Perusahaan industri yang mengendalikan proses dan produknya dengan cara-cara biasa saja atau hanya mengandalkan logika dan intuisi saja maka dapat dipastikan hasilnya biasa-biasa saja, Nilai Sigma yang dicapai dibawah 3 Sigma (< 3 Sigma).
Perusahaan Industri yang mengendalikan proses dan produknya menggunakan 7 Tool (PDCA-GKM) dan SPC akan mencapai Nilai Sigma antara 3 sampai 4 Sigma.
Untuk menjadi perusahaan yang World Class (Nilai Sigma diatas 5,5) tentu dibutuhkan usaha yang lebih. Metode yang digunakan adalah Lean Six Sigma.
Anda dapat mengetahui seberapa tinggi tingkat Sigma Capability dari proses dan produk di perusahaan Anda saat ini (lihat cara menghitung Nilai Sigma di Youtube saya Minaldi BM). Nilai Sigma yang rendah sangat merugikan perusahaan, karena banyak pemborosan yang terjadi.
Bandingkan Nilai Sigma perusahaan Anda dengan tabel berikut.
Salam.
***